Materi TKA

Senin, 2 November · 30 soal · 75 menit

Bahasa Indonesia

TKA Bahasa Indonesia berlangsung pada 2 November 2026 dan seluruhnya berupa soal membaca.

  • Jumlah dan waktu: 30 soal dalam 75 menit.
  • Teks: informasi (tunggal atau jamak) dan fiksi (realis atau absurd), masing-masing 250–300 kata dengan kalimat 8–12 kata.
  • Kompetensi: pemahaman tekstual, inferensial, serta evaluasi dan apresiasi.
  • Bentuk soal: pilihan ganda, pilihan ganda kompleks (pilih semua yang benar), dan kategori (Benar/Salah); soal tunggal maupun bergrup.

Cakupan resmi. Cakupan rangkuman ini mengikuti Perka BSKAP No. 045/H/AN/2025 hlm. 9-11 (dokumen resmi hanya dibaca, tidak diubah). Tes hanya mengukur kemampuan membaca. Butir resmi kompetensi tekstual: kata serapan; latar, tokoh, dan fenomena dari kosakata; kerangka teks. Butir inferensial: gagasan pokok, tokoh, peristiwa, latar, konflik, nilai, hubungan makna, dan prediksi kelanjutan atau akhir cerita. Butir evaluasi dan apresiasi: relevansi dengan kehidupan sehari-hari, ketepatan dan kecukupan informasi, kesesuaian bahasa, kesesuaian bagian teks fiksi, dan tanggapan emosional terhadap puisi, prosa, dan drama. Jumlah soal, waktu, dan bobot per kompetensi tidak tercantum pada halaman tersebut; angka 30 soal dan 75 menit di atas berasal dari rangkuman sebelumnya. Yang sudah diturunkan: bab indo-07 (kalimat efektif, ejaan, tanda baca) menjadi segmen pendek berprioritas rendah karena bukan butir resmi dan soal asli TKA 2025 (28 soal dari 8 teks) tidak memuat soal ejaan, kalimat efektif, atau kata baku yang berdiri sendiri; majas pertentangan dan pertautan serta teknis puisi di luar apresiasi (indo-04) berprioritas rendah; asal kata serapan (indo-06) hanya pendukung; latihan kalimat rumpang dan kalimat acak (indo-08) hanya penunjang kohesi dan bukan bentuk soal resmi.

INDO-01

Teks Informasi: Informasi Tersurat dan Gagasan Utama

Inti. Soal tersurat menanyakan informasi yang ditulis langsung di teks. Soal gagasan utama menanyakan pernyataan umum yang dijelaskan oleh seluruh paragraf atau seluruh teks. Teks informasi berisi fakta, konsep, atau prosedur (artikel, laporan, berita, eksposisi, teks prosedur) dan dapat berasal dari satu sumber atau beberapa sumber.

Kerangka paragraf contoh tentang kompos dan letak jawaban soal tersurat Soal: Berapa lama waktu yang diperlukan sampai tumpukan menjadi kompos? Kalimat 1 · bahan Kompos dibuat dari sisa organik … Kalimat 2 · cara ditumpuk, dibalik seminggu sekali Kalimat 3 · waktu sekitar dua bulan menjadi kompos berupa tanah gelap Soal tersurat: cari kata pokok soal di teks,lalu cocokkan dengan pilihan kata demi kata. Pengecoh seminggu sekali = frekuensi, bukan lama Jawaban sekitar dua bulan, tertulis langsung
Jawaban soal tersurat tertulis langsung di kalimat 3; ‘seminggu sekali’ di kalimat 2 adalah pengecoh karena menyatakan frekuensi, bukan lama waktu.
Tiga pilihan gagasan utama: terlalu sempit, tepat, dan terlalu luas Paragraf 1 Paragraf 2 Paragraf 3 Paragraf 4 di luar isi teks Terlalu sempit: hanya satu paragraf atau detail Tepat: mencakup semua paragraf, tanpa hal baru Terlalu luas: melampaui isi teks Gagasan yang hanya dibahas satu paragraf adalah gagasan pendukung.
Gagasan utama teks harus mencakup semua paragraf: pilihan yang hanya membahas satu paragraf terlalu sempit, pilihan yang melampaui isi teks terlalu luas.

Kaidah / strategi.

  • Jawaban soal tersurat harus dapat ditunjuk pada kalimat tertentu di teks.
  • Penanda soal tersurat: sesuai isi teks, berdasarkan teks, menurut paragraf kedua.
  • Soal tersurat: ambil kata pokok dari pertanyaan, cari kata itu di teks, lalu baca kalimat di sekitarnya.
  • Cocokkan kalimat itu dengan pilihan jawaban; periksa pelaku, objek, angka, dan hubungan sebab-akibat.
  • Pilihan yang benar boleh memakai sinonim (parafrase) dari kalimat teks.
  • Gagasan utama paragraf adalah inti yang dibahas oleh semua kalimat dalam paragraf itu, biasanya termuat dalam kalimat utama.
  • Kalimat lain adalah kalimat penjelas: rincian, contoh, data, sebab, atau akibat.
  • Cara menemukan kalimat utama: tanyakan kalimat mana yang dapat mewakili semua kalimat lain.
  • Kalimat utama bersifat umum, dapat berdiri sendiri, tidak diawali konjungsi antarkalimat, dan umumnya tidak berisi angka atau contoh.
  • Penanda gagasan pendukung: misalnya, contohnya, yaitu, antara lain, sebagai berikut.
  • Pola paragraf: deduktif (kalimat utama di awal), induktif (di akhir), campuran (di awal dan ditegaskan lagi di akhir), tersebar (tidak ada kalimat utama tunggal; gagasan disimpulkan dari seluruh kalimat).
  • Topik berupa frasa (produksi garam rakyat); gagasan utama berupa pernyataan tentang topik itu (produksi garam rakyat bergantung pada cuaca).
  • Baca judul serta kalimat pertama dan terakhir tiap paragraf lebih dahulu; kalimat topik biasanya berada di salah satu posisi itu.
  • Gagasan utama seluruh teks adalah hal yang dibahas oleh semua paragraf; pilih yang dibahas paling banyak, bukan yang paling menarik atau paling awal.
  • Gagasan yang hanya dibahas satu paragraf adalah gagasan pendukung.
  • Struktur teks: eksposisi (pernyataan umum, rincian atau argumen, penegasan), prosedur (tujuan, bahan, langkah berurutan), berita (apa, siapa, kapan, di mana, mengapa, bagaimana).
  • Kerangka teks: tulis satu gagasan pokok tiap paragraf, lalu urutkan sesuai urutan paragraf.
  • Urutan prosedur atau kronologi: cari penanda urutan (pertama, kemudian, setelah itu, terakhir); pilihan sering membalik dua langkah yang berdekatan.
  • Hubungan antarparagraf (sebab, akibat, penguraian, saling melengkapi) dibahas pada indo-08.
  • Judul yang tepat mencakup gagasan utama seluruh teks, tidak terlalu sempit (satu rincian) dan tidak terlalu luas.
  • Tujuan penulis teks informasi umumnya menjelaskan atau memberi tahu, bukan membujuk.
  • Teks argumentasi bertujuan membujuk pembaca dengan klaim dan alasan.

Jebakan.

  • Pilihan benar menurut pengetahuan umum, tetapi tidak tertulis di teks.
  • Singkirkan pilihan yang tidak punya kalimat pendukung di teks.
  • Pilihan memakai kata yang sama dengan teks, tetapi menukar subjek dan objek atau membalik sebab-akibat.
  • Pilihan mengubah angka, urutan, pelaku, atau tempat dari kalimat asli; bandingkan setiap unsur pilihan dengan teks.
  • Pilihan memuat kata mutlak (semua, selalu, satu-satunya, hanya, tidak pernah), padahal teks memakai sebagian, umumnya, atau biasanya.
  • Kalimat contoh atau data dipilih sebagai gagasan utama hanya karena letaknya di awal paragraf.
  • Pilihan gagasan utama terlalu sempit (hanya satu detail) atau terlalu luas (melampaui isi teks).
  • Pilih yang mencakup semua paragraf dan tidak menambah hal baru.

Contoh singkat.

  • Teks: (1) “Kompos dibuat dari sisa organik seperti daun kering dan potongan sayur.”
  • (2) “Sisa tersebut ditumpuk dan dibalik seminggu sekali agar udara masuk.”
  • (3) “Setelah sekitar dua bulan, tumpukan itu menjadi kompos berupa tanah gelap yang gembur.”
  • Soal: berapa lama waktu yang diperlukan sampai tumpukan menjadi kompos?
  • Langkah penalaran:
    1. Ambil kata pokok soal: lama waktu sampai menjadi kompos.
    2. Cari kata itu di teks: kalimat 3 memuat setelah sekitar dua bulan dan menjadi kompos.
    3. Periksa kalimat 2: seminggu sekali adalah frekuensi pembalikan, bukan lama pembuatan.
  • Jawaban: sekitar dua bulan (kalimat 3).
  • Alasan: kalimat 3 menyebut lama waktu langsung; pilihan seminggu sekali berasal dari kalimat 2 dan menjawab pertanyaan lain.

Contoh lanjutan.

  • Teks: (1) Produksi garam rakyat sangat bergantung pada cuaca.
  • (2) Penguapan air laut memerlukan panas matahari kuat dan angin kering.
  • (3) Karena itu, tambak umumnya hanya berproduksi pada musim kemarau.
  • (4) Saat hujan, petambak beralih ke budi daya ikan.
  • Soal: gagasan utama paragraf tersebut adalah ...
  • Pilihan: A. Petambak beralih ke budi daya ikan. B. Produksi garam rakyat bergantung pada cuaca. C. Penguapan memerlukan panas dan angin kering. D. Garam dibuat dari air laut.
  • Langkah penalaran:
    1. Uji kalimat (2): menjelaskan sebab ketergantungan pada cuaca, sehingga merinci kalimat (1).
    2. Uji kalimat (3): akibat dari kalimat (2), sehingga merinci kalimat (1).
    3. Uji kalimat (4): akibat lanjutan, sehingga merinci kalimat (1).
    4. Semua kalimat lain merinci kalimat (1); jadi kalimat (1) adalah kalimat utama (pola deduktif).
    5. Pilihan A dan C hanya rincian; pilihan D tidak dibahas sebagai pokok paragraf.
  • Jawaban: B.
  • Alasan: hanya kalimat (1) yang dapat mewakili semua kalimat lain.

INDO-02

Pemahaman Tersirat dan Inferensial

Inti. Soal inferensial menanyakan simpulan yang tidak ditulis di teks, tetapi didukung informasi di teks. Dasar penalarannya adalah petunjuk tertulis ditambah logika, bukan pengalaman atau pendapat pribadi. Cakupannya mencakup simpulan, hubungan sebab-akibat tersirat, tujuan dan sikap penulis, serta makna kata dalam konteks.

Dari tiga petunjuk tertulis menuju simpulan yang tidak tertulis Tertulis di teks Tidak tertulis, harus disimpulkan Lampu ruang tamu masih menyalapukul dua dini hari Lembar jawaban siswa di mejabaru sebagian bertanda nilai Secangkir kopitinggal ampas Simpulan Pak Joko memeriksa lembar jawabansampai larut malam petunjuk + logika, bukan pengalaman pribadi Uji pilihan: adakah kalimat teksyang mendukung? Adakah kalimat teks yangbertentangan dengan pilihan? Singkirkan simpulan yang lebihluas daripada bukti di teks
Soal inferensial: dua atau lebih petunjuk tertulis digabung dengan logika menjadi simpulan yang tidak tertulis, lalu setiap pilihan diuji terhadap kalimat teks.

Kaidah / strategi.

  • Penanda soal: dapat disimpulkan, tersirat, diduga, berarti, implikasi, kemungkinan besar, paling mungkin.
  • Langkah inferensi: (1) tandai fakta kunci di teks, (2) hubungkan fakta itu, (3) uji tiap pilihan: dapatkah dibuktikan dari teks tanpa asumsi tambahan? Jika perlu asumsi tambahan, pilihan itu salah.
  • Jawaban terbaik adalah simpulan yang menambah asumsi paling sedikit.
  • Simpulan sah jika didukung teks, tidak bertentangan dengan informasi apa pun di teks, dan tidak menambah fakta baru.
  • Hubungan sebab-akibat yang tersirat sering mengharuskan dua informasi dari bagian berbeda digabungkan.
  • Hubungan sebab-akibat, pertentangan, perbandingan, dan urutan sering tidak ditandai konjungsi; pembaca menyimpulkannya dari isi.
  • Kontrapositif: jika A mengakibatkan B, maka B tidak terjadi berarti A tidak terjadi. Pembalikan (B terjadi berarti A terjadi) belum tentu benar karena B dapat disebabkan hal lain.
  • Kuantor: sebagian tidak menjamin semua; tidak semua sama dengan sebagian tidak; umumnya membolehkan pengecualian.
  • Tujuan penulis: informatif (menjelaskan), persuasif (mengajak: marilah, hendaknya), argumentatif (pendapat, alasan, dan bukti), ekspresif atau menghibur. Petunjuknya ada pada pilihan kata dan struktur.
  • Sikap atau nada penulis (netral, kritis, optimistis, pesimistis, skeptis, menyindir): perhatikan kata bernilai seperti sayangnya, ironisnya, patut disyukuri, ternyata, mengesankan, mengkhawatirkan.
  • Makna kontekstual: substitusikan kandidat makna ke kalimat, lalu pilih yang membuat kalimat dan paragraf tetap logis.
  • Soal lanjutan atau prediksi: pilih kelanjutan yang konsisten dengan arah dan fakta teks, bukan yang sekadar masuk akal secara umum.
  • Uji tiap pilihan: adakah kalimat di teks yang mendukung, dan adakah kalimat yang bertentangan?

Jebakan.

  • Simpulan berlebihan: pilihan menggeneralisasi satu kasus menjadi semua kasus.
  • Singkirkan pilihan yang cakupannya lebih luas daripada bukti di teks.
  • Pilihan masuk akal secara umum, tetapi bertentangan dengan satu detail di teks; periksa setiap detail yang disebut pilihan.
  • Pilihan memuat pendapat atau perasaan yang tidak punya dasar di teks.
  • Korelasi dianggap sebab-akibat, atau arah sebab-akibat dibalik.
  • Memakai makna kamus yang paling umum padahal konteks kalimat menuntut makna lain.
  • Pendapat narasumber yang dikutip dianggap pendapat penulis.

Contoh singkat.

  • Teks: (1) “Lampu ruang tamu Pak Joko masih menyala pukul dua dini hari.”
  • (2) “Di mejanya terdapat setumpuk lembar jawaban siswa yang baru sebagian bertanda nilai dan secangkir kopi yang tinggal ampas.”
  • Soal: apa yang paling mungkin dilakukan Pak Joko semalam?
  • Langkah penalaran:
    1. Tandai fakta: lampu menyala pukul dua dini hari; lembar jawaban siswa baru sebagian bertanda nilai; kopi tinggal ampas.
    2. Hubungkan fakta: lembar jawaban belum selesai dinilai dan ia masih terjaga larut malam.
    3. Uji pilihan: simpulan yang tidak memerlukan asumsi tambahan adalah ia sedang memeriksa lembar jawaban.
  • Jawaban: memeriksa lembar jawaban sampai larut malam.
  • Alasan: ketiga petunjuk mendukung kegiatan memeriksa dalam waktu lama, walau teks tidak menyebutnya langsung.

Contoh lanjutan.

  • Teks: Sejak kantin sekolah memakai wadah makan pakai ulang, sampah plastik harian turun dari 12 kg menjadi 4 kg. Namun, jumlah siswa yang membeli di kantin juga turun sepertiga sejak kebijakan itu.
  • Soal: simpulan yang paling tepat adalah ...
  • Pilihan: A. Wadah pakai ulang tidak mengurangi sampah. B. Penurunan sampah mungkin sebagian disebabkan berkurangnya pembeli, tidak hanya wadah. C. Siswa tidak menyukai kebijakan sekolah. D. Kantin merugi.
  • Langkah penalaran:
    1. Hitung penurunan sampah: dari 12 kg menjadi 4 kg, turun 8 kg atau dua pertiga.
    2. Penurunan pembeli: sepertiga.
    3. Berkurangnya pembeli dapat ikut mengurangi sampah, tetapi penurunannya lebih kecil daripada penurunan sampah, sehingga tidak menjelaskan seluruhnya.
    4. Pilihan A bertentangan dengan data (sampah turun); pilihan C dan D menambah fakta yang tidak ada di teks.
  • Jawaban: B.
  • Alasan: hanya pilihan B yang sejalan dengan kedua data dan tidak menambah fakta baru.

INDO-03

Teks Fiksi: Prosa (Cerpen/Novel)

Inti. Soal fiksi menguji unsur intrinsik dan cara unsur itu dibangun lewat teks, baik pada fiksi realis maupun fiksi absurd. Bedakan apa yang dikatakan narator, dilakukan tokoh, dan disimpulkan pembaca; bukti ada di kalimat, dialog, atau tindakan tokoh.

Kurva ketegangan empat tahap alur cerita 1 Pengenalan 2 Munculnya konflik 3 Klimaks 4 Penyelesaian ketegangan urutan cerita ketegangan menurun(antiklimaks)
Ketegangan naik dari pengenalan menuju klimaks, lalu menurun sampai penyelesaian; sebagian buku menyebut bagian yang menurun itu antiklimaks.
Penokohan langsung dan tidak langsung, serta beda tema dan amanat Penokohan Langsung (analitik) narator menyebut sifat tokoh secara eksplisit Tidak langsung (dramatik) lewat dialog, tindakan, pikiran, penampilan,atau reaksi tokoh lain Pak Darma: narator menulis“Pak Darma orang yang jujur.” (sifat disebut) Pak Darma: mengembalikan uang + ucapan“Ini bukan milik saya” → jujur Jebakan Menyimpulkan sifat dari satu tindakan.Cari minimal dua tindakan atau ucapan konsisten. Tema dan amanat Temaberbentuk topik kejujuran disimpulkan Amanatberbentuk nasihat kejujuran harus dipertahankan walau merugikan Pilihan berbentuk topik adalah tema; pilihan berbentuk nasihat adalah amanat.
Sifat tokoh disimpulkan dari bukti berulang (tindakan dan ucapan), dan tema berbentuk topik sedangkan amanat berbentuk nasihat.

Kaidah / strategi.

  • Fiksi realis menggambarkan peristiwa yang mungkin terjadi di dunia nyata.
  • Fiksi absurd memuat peristiwa yang tidak logis dan biasanya bermakna simbolis. Tanyakan apa yang tidak logis dan apa yang dilambangkannya (misalnya kekuasaan, kesepian, birokrasi).
  • Tema: gagasan dasar cerita (jawaban atas pertanyaan tentang apa?), berbentuk topik (misalnya kejujuran). Tema ditentukan dengan merangkum konflik utama dan nasib tokoh, lalu menaikkannya ke topik umum.
  • Amanat: pesan yang disimpulkan pembaca, berbentuk nasihat (misalnya “kejujuran harus dipertahankan walau merugikan”). Lihat akibat tindakan tokoh (diganjar atau dihukum), lalu rumuskan sebagai saran umum yang positif.
  • Tokoh adalah pelaku cerita; penokohan adalah cara pengarang menggambarkan sifat tokoh.
  • Protagonis adalah tokoh utama yang menjadi pusat cerita; antagonis adalah penentang protagonis. Peran ini ditentukan oleh kedudukan dalam cerita, bukan oleh sifat baik atau buruk.
  • Penokohan langsung (analitik): narator menyebut sifat tokoh secara eksplisit.
  • Penokohan tidak langsung (dramatik): sifat ditunjukkan lewat dialog, tindakan, pikiran, penampilan, atau reaksi tokoh lain.
  • Soal sifat tokoh: kumpulkan minimal dua tindakan atau ucapan yang konsisten, terutama saat tokoh menghadapi tekanan, sebelum menentukan sifat.
  • Alur menurut urutan waktu: maju, mundur (kilas balik), atau campuran.
  • Tahap alur: pengenalan, munculnya konflik, klimaks, antiklimaks atau peleraian (ketegangan menurun), penyelesaian.
  • Klimaks adalah titik ketegangan tertinggi; klimaks belum tentu bagian terakhir cerita.
  • Konflik batin: tokoh bergulat dengan perasaan atau pikirannya sendiri.
  • Konflik eksternal (lahir): tokoh berhadapan dengan tokoh lain, masyarakat, atau alam.
  • Latar mencakup tempat, waktu, suasana, dan sosial-budaya. Suasana (tegang, sunyi, hangat, mencekam) dibangun oleh deskripsi lingkungan, pilihan kata, dan reaksi tokoh.
  • Sudut pandang orang pertama: narator ikut menjadi tokoh dan memakai aku atau saya (sebagai pelaku utama atau pelaku sampingan).
  • Orang ketiga serba tahu: narator mengetahui pikiran banyak tokoh.
  • Orang ketiga terbatas: narator hanya mengetahui pikiran satu tokoh.
  • Orang ketiga pengamat: narator hanya melaporkan yang terlihat.
  • Nilai dalam cerita: cocokkan perilaku tokoh dengan jenis nilai (moral, sosial, budaya, religius, pendidikan).
  • Memprediksi kelanjutan atau akhir cerita: bertumpu pada petunjuk dalam cerita, yaitu watak tokoh, konflik yang belum selesai, dan pola kejadian sebelumnya. Prediksi yang tepat tidak bertentangan dengan watak dan alur yang sudah dibangun.
  • Respons emosional pembaca (haru, cemas, lega) ditentukan dari diksi, suasana, dan peristiwa; lihat indo-05.
  • Drama: naskah berisi dialog dan petunjuk laku; unsur intrinsiknya sama dengan prosa.

Jebakan.

  • Sifat tokoh ditentukan dari satu tindakan; pilih sifat yang didukung tindakan dan ucapan yang berulang di teks.
  • Tema tertukar dengan amanat; pilihan berbentuk nasihat adalah amanat, pilihan berbentuk topik adalah tema.
  • Pilihan tema berupa rangkaian peristiwa panjang; tema bukan rincian peristiwa.
  • Protagonis dianggap selalu baik.
  • Latar suasana disamakan dengan latar tempat; periksa apakah pertanyaan menanyakan lokasi atau kesan yang ditimbulkan.
  • Sudut pandang orang ketiga dianggap selalu serba tahu; periksa apakah isi batin tokoh diungkapkan.
  • Prediksi dipilih karena masuk akal secara umum, padahal bertentangan dengan watak tokoh di cerita.

Contoh singkat.

  • Teks: (1) “Pak Darma menghitung ulang uang kembalian.”
  • (2) “Ia berlari melewati dua gang untuk menyerahkan selembar uang sepuluh ribu kepada pembeli yang sudah pergi.”
  • (3) “Ini bukan milik saya,” katanya sambil terengah.
  • Soal: apa sifat Pak Darma dan teknik penokohan apa yang dipakai?
  • Langkah penalaran:
    1. Periksa apakah narator menyebut sifat tokoh: tidak ada kata yang menyebut sifat Pak Darma.
    2. Karena sifat ditunjukkan lewat tindakan dan ucapan, penokohannya tidak langsung (dramatik).
    3. Kumpulkan bukti: menghitung ulang kembalian, berlari mengembalikan uang, dan berkata “Ini bukan milik saya”.
    4. Ketiga bukti konsisten menunjukkan sifat jujur.
  • Jawaban: jujur; penokohan tidak langsung.
  • Alasan: sifat tidak disebut narator, tetapi ditunjukkan lewat tindakan mengembalikan uang dan ucapan tokoh.

Contoh lanjutan.

  • Teks: (1) Rina berlatih lari setiap subuh selama enam bulan untuk lomba sekolah.
  • (2) Seminggu sebelum lomba, kakinya terkilir, tetapi ia tetap datang ke lapangan untuk menyemangati teman-temannya.
  • (3) Kepada pelatih ia berkata, “Tahun depan saya akan mencoba lagi.”
  • Soal: kelanjutan cerita yang paling sesuai dengan watak tokoh dan alur adalah ...
  • Pilihan: A. Rina berhenti berlatih dan menjauhi lapangan. B. Rina menyembuhkan kakinya, lalu berlatih lagi untuk lomba tahun berikutnya. C. Rina menyalahkan pelatih atas cederanya. D. Rina pindah sekolah agar tidak melihat lomba.
  • Langkah penalaran:
    1. Watak: tekun (berlatih enam bulan) dan mendukung teman (menyemangati walau cedera).
    2. Konflik yang belum selesai: cedera menggagalkan keikutsertaan dalam lomba tahun ini.
    3. Petunjuk arah cerita: kalimat (3) menyatakan niat mencoba lagi tahun depan.
    4. Pilihan A dan D bertentangan dengan niat itu; pilihan C tidak didukung petunjuk apa pun di teks.
  • Jawaban: B.
  • Alasan: hanya pilihan B yang selaras dengan watak tekun dan niat yang diucapkan tokoh.

INDO-04

Puisi, Majas, dan Apresiasi Bahasa

Inti. Soal puisi menguji pemaknaan puisi, diksi, citraan, suasana, dan apresiasi terhadap pemakaian bahasa penulis, termasuk tanggapan emosional pembaca. Bahasa puisi padat sehingga banyak kata bermakna konotatif; maknai kata dari konteks seluruh bait, bukan satu kata terpisah. Majas dan teknis puisi di luar apresiasi berprioritas rendah.

Peta 14 majas menurut cara kerjanya Membandingkan Metafora A adalah B, tanpa pembanding Simile pakai seperti, bagai, laksana Personifikasi benda berperilaku manusia Melebihkan / merendahkan Hiperbola dilebihkan dari keadaan Litotes merendahkan diri, sopan Menyindir Ironi kata berlawanan dengan maksud Sarkasme sindiran kasar, langsung Mempertentangkan Paradoks tampak berlawanan, tetap benar Antitesis dua kata berlawanan Mengganti Metonimia nama atau merek ganti hal Sinekdoke sebagian ↔ seluruh Eufemisme ungkapan kasar jadi halus Menekankan Repetisi pengulangan kata Retoris tanya tanpa jawaban
Empat belas majas dikelompokkan menurut cara kerjanya (membandingkan, melebihkan, menyindir, mempertentangkan, mengganti, menekankan), dengan ciri pembeda masing-masing.
Alur memilih antara simile, personifikasi, dan metafora Ada kata pembanding (seperti, bagai, laksana)? ya Simile Suaranya seperti gergaji berkarat tidak Benda mati atau gejala alam melakukan tindakan manusia? ya Personifikasi Angin membisikkan rahasia kepada daun tidak Dua hal disamakan langsung, tanpa kata pembanding (A adalah B)? ya Metafora Perpustakaan adalah gudang pengetahuan tidak Periksa majas lain dalam daftar 14 majas
Tiga majas yang paling sering tertukar dibedakan lewat tiga pertanyaan berurutan: ada kata pembanding, ada tindakan manusia pada benda, atau hanya penyamaan langsung.

Kaidah / strategi.

  • Unsur puisi: diksi (pilihan kata), citraan, majas, rima, tipografi, tema, dan amanat. Pembicara dalam puisi disebut aku lirik atau persona.
  • Denotatif: makna lugas atau sebenarnya. Konotatif: makna tambahan berupa nilai rasa atau kiasan. Puisi dominan konotatif, sehingga jangan ditafsirkan harfiah.
  • Tema puisi ditentukan dari judul, kata yang berulang, dan hubungan antarbait; jangan memilih tema dari satu bait saja.
  • Diksi: tanyakan mengapa kata itu dipilih dan kesan apa yang muncul dibandingkan sinonimnya.
  • Parafrase: ubah tiap baris menjadi kalimat biasa, lalu rangkum suasana, tema, dan pesan.
  • Suasana ditentukan dari diksi dominan: senja, sepi, lirih, gugur menandakan suasana sendu; gemuruh, membara menandakan semangat atau ketegangan.
  • Citraan ditentukan dari indra yang dirangsang kata kunci: penglihatan (pekat), pendengaran (gemuruh), perabaan (dingin), penciuman, pengecapan, dan gerak.
  • Tanggapan emosional (haru, rindu, marah, cemas) dinyatakan beserta alasan dari bagian puisi: diksi, citraan, atau suasana yang menimbulkannya (lihat indo-05).
  • Apresiasi bahasa: nilai apakah pilihan kata dan citraan cocok dengan suasana serta pesan puisi.
  • Majas perbandingan:
    • Metafora: menyamakan langsung dua hal tanpa kata pembanding (A adalah B). Contoh: “Perpustakaan adalah gudang pengetahuan.”
    • Simile: membandingkan dua hal dengan kata pembanding (seperti, bagai, laksana). Contoh: “Suaranya seperti gergaji berkarat.”
    • Personifikasi: benda atau gejala alam diberi sifat atau tindakan manusia. Contoh: “Angin membisikkan rahasia kepada daun.”
  • Majas lain (prioritas rendah; bukan butir resmi tersendiri):
    • Hiperbola: dilebihkan dari keadaan sebenarnya. Contoh: “Tangisnya membelah langit.”
    • Litotes: merendahkan diri sendiri atau hal yang dimiliki. Contoh: “Silakan singgah di gubuk kami” (untuk rumah yang besar).
    • Ironi: sindiran halus dengan kata yang bermakna berlawanan dengan maksudnya. Contoh: “Rapi sekali kamarmu” (padahal pakaian berserakan).
    • Sinisme (sarkasme): sindiran kasar yang disampaikan langsung.
    • Paradoks: tampak bertentangan, tetapi mengandung kebenaran. Contoh: “Ia kesepian di tengah keramaian pasar.”
    • Antitesis: dua kata atau gagasan berlawanan dalam satu pernyataan. Contoh: “Besar kecil, tua muda, semua hadir.”
    • Metonimia: menyebut nama, ciri, atau merek untuk hal yang dimaksud. Contoh: “Ia membaca Chairil semalaman” (maksudnya karya Chairil).
    • Sinekdoke: menyebut sebagian untuk seluruhnya (pars pro toto: “lima tahun ia tak menampakkan batang hidungnya”) atau sebaliknya (totum pro parte: “Indonesia menang atas Jepang” untuk tim).
    • Eufemisme: ungkapan halus pengganti ungkapan kasar. Contoh: “Kakek berpulang tadi malam.”
    • Repetisi: pengulangan kata atau frasa untuk penekanan; anafora adalah pengulangan di awal baris.
    • Retoris: pertanyaan yang tidak menuntut jawaban. Contoh: “Siapa yang tidak ingin lulus?”
  • Rima adalah persamaan bunyi, larik adalah baris puisi, dan bait adalah kelompok larik; istilah ini berprioritas rendah.

Jebakan.

  • Kata konotatif dimaknai harfiah (hujan dianggap cuaca, padahal melambangkan kesedihan); jika makna harfiah tidak cocok dengan seluruh bait, pakai makna konotatif.
  • Metafora tertukar dengan simile; simile memakai kata pembanding, metafora menyamakan langsung.
  • Tanpa kata pembanding belum tentu metafora: bisa personifikasi, hiperbola, atau ironi.
  • Personifikasi tertukar dengan hiperbola atau metafora; personifikasi hanya jika benda mati atau gejala alam melakukan tindakan atau memiliki sifat manusia.
  • Ironi tertukar dengan sinisme; ironi halus dan berbalik makna, sinisme menyindir terang-terangan.
  • Tema dipilih dari satu bait, bukan dari keseluruhan puisi.

Contoh singkat.

  • Larik: “Senja menutup pintu di ujung jalan.”
  • Soal: majas apa yang digunakan?
  • Langkah penalaran:
    1. Periksa kata pembanding (seperti, bagai, laksana): tidak ada, jadi bukan simile.
    2. Tentukan pelaku tindakan: senja adalah waktu atau gejala alam.
    3. Tentukan tindakannya: menutup pintu adalah tindakan manusia.
    4. Gejala alam yang melakukan tindakan manusia adalah personifikasi.
  • Jawaban: personifikasi.
  • Alasan: senja diberi tindakan manusia, yaitu menutup pintu.

Contoh lanjutan.

  • Puisi: “Senja menyulam jingga di pundak bukit / angin berbisik pada daun yang hendak gugur / dan aku, sebatang lilin kecil di ruang sepi / menghitung malam yang meleleh.”
  • Soal: majas pada baris kedua dan suasana bait ini adalah ...
  • Pilihan: A. hiperbola, riang. B. personifikasi, sendu. C. litotes, tegang. D. ironi, marah.
  • Langkah penalaran:
    1. Baris kedua: angin berbisik pada daun; berbisik adalah tindakan manusia, sehingga majasnya personifikasi.
    2. Kumpulkan diksi suasana: gugur, sepi, meleleh menandakan kesedihan yang tenang.
    3. Suasana sendu; pilihan yang memuat personifikasi dan sendu adalah B.
  • Jawaban: B.
  • Alasan: majas dan suasana pada pilihan B sesuai dengan diksi baris kedua dan kata kunci seluruh bait.

INDO-05

Evaluasi: Fakta-Opini, Argumen, dan Penilaian Gagasan

Inti. Soal evaluasi meminta pembaca menilai isi teks, bukan hanya memahaminya. Pembaca membedakan fakta dari opini, menilai apakah alasan, data, dan simpulan penulis memadai, menilai relevansi isi dengan kehidupan sehari-hari, menilai kesesuaian bahasa dan bagian teks, serta menanggapi puisi, prosa, dan drama secara emosional, semuanya berdasarkan bukti di teks.

Uji fakta atau opini dengan contoh tiga kalimat tentang botol minum Dapatkah benar atau salahnya diperiksadengan data, pengukuran, atau dokumen? ya tidak Fakta (1) Sekolah A mewajibkan botol minum (2) sampah botol turun dari 120 menjadi 45 dapat diperiksa lewat data sekolah Opini (3) … sebaiknya diterapkan di semua sekolah penanda: sebaiknya, seharusnya, tampaknya,diperkirakan, dan kata penilaian saran tidak dapat dibuktikan benar atau salah Jebakan: prediksi berangka dan penilaian pakar tetap opini.“Menurut” bukan penanda pasti: “Menurut data …” fakta; “Menurut saya …” opini.
Satu pertanyaan memisahkan fakta dari opini: dapatkah benar atau salahnya diperiksa dengan data atau dokumen? Prediksi, penilaian pakar, dan kata menurut perlu dilihat isinya.
Struktur argumen dan pemeriksaan kekuatan serta kelemahannya 1 Klaim yang ingin dibuktikan penulis 2 Alasan atau data yang mendukung klaim 3 Simpulan harus didukung data di teks Argumen kuat jika data relevan dengan klaimcukup jumlahnyabersumber jelas Periksa kelemahan generalisasi dari sampel kecildata tidak berhubungan dengan klaimsumber tidak jelassebab-akibat tidak dibuktikan
Argumen terdiri atas klaim, alasan atau data, dan simpulan; kekuatannya ditentukan oleh tiga sifat data, dan kelemahannya muncul dari empat kesalahan yang umum.

Kaidah / strategi.

  • Fakta adalah pernyataan yang berdasarkan kenyataan dan dapat dibuktikan lewat data tercatat, tanggal, pengukuran, dokumen, atau pengamatan.
  • Soal fakta-opini menilai dapat tidaknya suatu pernyataan diuji, bukan apakah pernyataan itu sesuai selera atau penilaian.
  • Uji fakta: tanyakan apakah pernyataan itu dapat dicek lewat data, dokumen, atau pengamatan. Jika dapat dicek, pernyataan itu fakta.
  • Opini berisi penilaian, pandangan, saran, harapan, atau prediksi, dan tidak dapat diverifikasi langsung.
  • Penanda opini: sebaiknya, seharusnya, tampaknya, diperkirakan, kemungkinan, dan kata penilaian (indah, penting, terbaik, kurang baik).
  • Superlatif (paling): bila ukurannya dapat dicek (tertinggi di dunia), pernyataan itu fakta; bila bergantung pada selera (paling indah), pernyataan itu opini.
  • Angka saja belum cukup: perkiraan dan prediksi berangka tetap opini, sedangkan data lampau yang tercatat adalah fakta.
  • Menurut bukan penanda pasti: tentukan dari isi kalimat.
  • “Menurut data sekolah, siswa kelas 11 berjumlah 120 orang” adalah fakta karena merujuk data.
  • “Menurut saya, kelas 11 terlalu ramai” adalah opini karena merujuk pendapat pribadi.
  • Argumen terdiri atas klaim (tesis), alasan atau data pendukung (premis dan bukti), dan simpulan.
  • Argumen kuat jika data relevan dengan klaim, cukup jumlahnya, dan bersumber jelas.
  • Menguatkan argumen: pilih bukti yang langsung berhubungan dengan klaim dan berasal dari sumber sahih.
  • Melemahkan argumen: cari penjelasan alternatif atau data yang bertentangan dengan hubungan sebab-akibat pada klaim.
  • Kelemahan argumen: generalisasi dari sampel kecil dan data yang tidak berhubungan dengan klaim.
  • Kelemahan lain: sumber tidak jelas dan hubungan sebab-akibat yang tidak dibuktikan.
  • Kekeliruan nalar yang sering muncul: generalisasi tergesa-gesa, korelasi dianggap sebab, ad populum (dianggap benar karena banyak yang percaya), ad hominem (menyerang pribadi, bukan gagasan), dan dikotomi palsu (hanya dua pilihan padahal ada pilihan lain).
  • Ketepatan dan kecukupan informasi: periksa kesesuaian judul dan isi, kecukupan bukti, keberimbangan sudut pandang, dan kejelasan sumber.
  • Judul harus mencakup gagasan utama; simpulan harus didukung data di teks dan diturunkan dari premis tanpa lompatan logika.
  • Menilai solusi: solusi baik jika menyasar penyebab masalah yang disebut teks, dapat dilakukan, dan tidak menimbulkan masalah baru yang lebih besar.
  • Soal tanggapan: pilih tanggapan yang menyebut setuju atau kurang setuju disertai alasan berdasarkan isi teks atau logika, bukan sekadar setuju atau tidak setuju.
  • Relevansi: tanyakan apakah peristiwa, nilai, atau sindiran di teks berlaku bagi kehidupan sehari-hari pembaca.
  • Tanggapan emosional terhadap puisi, prosa, dan drama menyatakan perasaan pembaca (terharu, geram, cemas) beserta alasan dari bagian karya. Contoh: terharu karena tokoh rela mengorbankan miliknya demi adiknya.
  • Pada drama, perhatikan dialog, keterangan laku dalam kurung, dan konflik antartokoh.
  • Kesesuaian bahasa: nilai apakah ragam bahasa cocok dengan tujuan dan pembaca (formal untuk berita atau laporan, santai untuk percakapan).
  • Kesesuaian bagian teks: nilai apakah suatu bagian (judul, paragraf, kalimat, ilustrasi) sesuai dengan isi dan fungsi teks. Bagian yang tidak mendukung gagasan pokok atau memakai ragam yang tidak cocok dinilai kurang sesuai.
  • Kesesuaian tindakan tokoh (soal kategori Benar/Salah): bandingkan tindakan tokoh dengan watak yang dibangun cerita.

Jebakan.

  • Kalimat berangka atau berbahasa ilmiah dianggap fakta padahal berupa perkiraan atau prediksi. Prediksi belum dapat dibuktikan sehingga termasuk opini.
  • Contoh: “Jumlah pengunjung perpustakaan diperkirakan mencapai 500 orang per hari tahun depan” adalah opini (prediksi).
  • Fakta dianggap hanya berarti benar; fakta adalah pernyataan yang berdasarkan kenyataan dan dapat dibuktikan, sedangkan bagian yang bergantung pada penilaian atau selera termasuk opini.
  • Kalimat kutipan pakar dianggap fakta. Penilaian atau prediksi pakar tetap opini; hanya hasil pengukuran atau data yang berstatus fakta.
  • Argumen terkuat dipilih berdasarkan panjang atau banyaknya istilah teknis; pilih argumen yang datanya langsung mendukung klaim.
  • Banyak orang melakukannya dipilih sebagai bukti kuat (ad populum).
  • Pada soal melemahkan, memilih pilihan yang justru menguatkan atau tidak berkaitan dengan sebab-akibat klaim.
  • Tanggapan berisi pendapat pribadi yang tidak terkait isi teks dipilih sebagai tanggapan yang tepat.

Contoh singkat.

  • Teks: (1) “Sekolah A mewajibkan siswa membawa botol minum sejak Januari.”
  • (2) “Jumlah sampah botol plastik di kantin turun dari 120 menjadi 45 buah per hari.”
  • (3) “Karena itu, kebijakan serupa sebaiknya diterapkan di semua sekolah.”
  • Soal: kalimat nomor berapa yang berisi opini?
  • Langkah penalaran:
    1. Kalimat (1): dapat dicek lewat peraturan sekolah, sehingga fakta.
    2. Kalimat (2): dapat dicek lewat data sampah di kantin, sehingga fakta.
    3. Kalimat (3): memuat sebaiknya, yaitu saran yang tidak dapat dibuktikan benar atau salah, sehingga opini.
  • Jawaban: kalimat (3).
  • Alasan: hanya kalimat (3) yang berupa saran; kalimat (1) dan (2) dapat diperiksa lewat data sekolah.

Contoh lanjutan.

  • Teks: Wali kota menaikkan tarif parkir dua kali lipat dan berpendapat kebijakan itu membuat warga beralih ke bus. Buktinya, penumpang bus naik 5% sebulan kemudian.
  • Soal: pernyataan yang paling melemahkan argumen wali kota adalah ...
  • Pilihan: A. Tarif parkir kota lain lebih mahal. B. Pada bulan yang sama harga bahan bakar naik tajam dan bus menambah rute. C. Sebagian warga mengeluhkan tarif baru. D. Bus kota sering terlambat.
  • Langkah penalaran:
    1. Tentukan klaim: tarif parkir naik, sehingga penumpang bus naik.
    2. Melemahkan berarti menawarkan penjelasan lain atas kenaikan penumpang bus.
    3. Pilihan B memberi dua penyebab alternatif: harga bahan bakar naik dan rute bus bertambah.
    4. Pilihan A, C, dan D tidak mengganggu hubungan antara tarif parkir dan jumlah penumpang.
  • Jawaban: B.
  • Alasan: hanya pilihan B menawarkan penyebab lain bagi kenaikan penumpang bus.

INDO-06

Kosakata dan Makna Kata

Inti. Soal kosakata menguji makna kata dalam konteks: kata umum dan khusus, istilah teknis (termasuk glosarium), denotasi dan konotasi, nuansa makna, ungkapan, serta latar, tokoh, dan fenomena yang disimpulkan dari pilihan kata. Makna kata ditentukan oleh kalimat tempat kata itu dipakai.

Polisemi kata kepala dan skala nilai rasa kurus, langsing, kerempeng kepala kepala sekolah pimpinan kepala surat bagian atas surat:nama dan alamat lembaga kepala bagian tubuh Makna ditentukan kalimat: gantikan kata dengan tiap makna, pilih yang membuat kalimat logis. Konotasi: makna dasar sama, nilai rasa berbeda kerempeng negatif kurus netral langsing positif
Kata yang sama dimaknai dari kalimat tempatnya dipakai (atas), dan kata yang maknanya sama dapat berbeda nilai rasa (bawah).

Kaidah / strategi.

  • Makna kontekstual: ganti kata itu dengan setiap pilihan makna, lalu pilih yang membuat kalimat sebelum dan sesudahnya tetap logis.
  • Denotasi: makna lugas sesuai kamus. Konotasi: makna tambahan yang membawa nilai rasa positif atau negatif.
  • Contoh: kurus (netral), langsing (positif), kerempeng (negatif).
  • Makna leksikal: makna kata dasar dalam kamus. Makna gramatikal: makna yang muncul setelah imbuhan atau pengulangan (membaca berarti melakukan; baca-baca berarti santai atau berulang).
  • Kata umum mencakup banyak hal (bunga); kata khusus lebih spesifik (mawar). Hubungan ini disebut hipernim-hiponim.
  • Istilah adalah kata khusus dalam bidang tertentu (inflasi, fotosintesis, hipotesis); maknanya tetap dan tidak bergantung pada konteks sehari-hari. Untuk istilah dan kata lokal yang diberi glosarium, pakai penjelasan di glosarium atau di kalimat sekitar kata itu.
  • Kata konkret dapat ditangkap indra (meja); kata abstrak tidak (keadilan, kebebasan).
  • Sinonim jarang sepenuhnya sama; periksa nilai rasa, cakupan, dan kata yang biasa menyertainya. Contoh: menatap (lama dan fokus), melirik (sekilas, menyamping), memelototi (mata terbelalak, sering karena marah), mengamati (cermat dan teliti).
  • Antonim ada tiga jenis: oposisi mutlak (hidup dan mati), relasional (membeli dan menjual), bertingkat (panas dan dingin).
  • Polisemi: satu kata dengan beberapa makna yang berkaitan. Homonim: bentuk sama, makna tidak berkaitan. Maknai dari konteks.
  • Idiom: gabungan kata yang maknanya tidak dapat ditelusuri dari unsurnya, misalnya naik daun (menjadi terkenal) dan kambing hitam (pihak yang disalahkan). Tafsirkan idiom sebagai satu kesatuan.
  • Fungsi imbuhan: me-kan (membuat jadi, misalnya membesarkan; atau untuk orang lain, misalnya membelikan), ber-an (jamak atau saling: berhamburan, berpelukan), ke-an (keadaan atau abstrak: keadilan; kena: kehujanan; terlalu: kemahalan; peristiwa merugikan: kebakaran).
  • pe-an menyatakan proses atau hasil (pembangunan); per-an menyatakan tempat atau hal (permukiman).
  • Latar, tokoh, dan fenomena dari pilihan kata: pilihan kata menunjukkan latar (tempat, waktu, suasana: kabut tipis, azan subuh), watak tokoh, atau fenomena yang digambarkan (abrasi, urbanisasi). Simpulkan dari kumpulan kata kunci di sekitar bagian yang ditanyakan, bukan dari satu kata.
  • Kata serapan (pendukung): kata asing atau daerah yang dipakai dalam bahasa Indonesia. Asal kata serapan bukan fokus kisi resmi, tetapi membantu memahami kata.
  • Contoh asal: Arab (kursi, kitab, ilmu, waktu), Portugis (meja, jendela, sepatu, bendera, sabun), Belanda (kantor, handuk, polisi).
  • Bila ragu tentang asal kata, pakai konteks kalimat, bukan asal kata.

Jebakan.

  • Makna paling umum dipilih padahal konteks memerlukan makna lain; substitusikan setiap pilihan ke dalam kalimat sebelum menjawab.
  • Dua sinonim dianggap selalu dapat saling menggantikan, padahal nilai rasa dan kata yang menyertainya berbeda.
  • Idiom ditafsirkan harfiah.
  • Fungsi imbuhan salah dikenali, misalnya ke-an dianggap selalu bermakna abstrak.
  • Istilah teknis disamakan dengan kata sehari-hari yang bunyinya sama.
  • Latar atau watak disimpulkan dari satu kata, bukan dari kumpulan kata kunci.

Contoh singkat.

  • Kalimat: “Kepala sekolah memimpin upacara, sedangkan kepala surat memuat nama dan alamat lembaga.”
  • Soal: apa makna kepala pada kepala surat?
  • Langkah penalaran:
    1. Kata kepala bermakna ganda (polisemi): pimpinan, bagian tubuh, atau bagian awal.
    2. Substitusikan makna pimpinan: “pimpinan surat” tidak logis.
    3. Substitusikan makna bagian tubuh: “bagian tubuh surat” tidak logis.
    4. Konteks menyebut memuat nama dan alamat lembaga; bagian surat yang memuat itu adalah bagian atas surat.
  • Jawaban: bagian atas surat (kop surat).
  • Alasan: hanya makna bagian awal surat yang membuat kalimat logis dan sesuai keterangan nama dan alamat lembaga.

Contoh lanjutan.

  • Soal: perhatikan kata berimbuhan ke-an: (1) kehujanan, (2) kemahalan, (3) keadilan, (4) kebakaran. Kata yang imbuhan ke-an-nya bermakna terlalu adalah ...
  • Langkah penalaran:
    1. Ganti tiap kata dengan terlalu: kemahalan menjadi terlalu mahal (logis).
    2. Kehujanan berarti kena hujan; keadilan berarti hal yang adil (abstrak); kebakaran berarti peristiwa terbakar yang merugikan.
  • Jawaban: (2) kemahalan.
  • Alasan: hanya kemahalan yang dapat diganti dengan terlalu mahal.
  • Teks: “Kabut tipis masih menutupi sawah. Dari surau terdengar azan subuh, dan bapak mengasah arit di beranda.”
  • Soal: latar apa yang digambarkan?
  • Langkah penalaran:
    1. Kumpulkan kata kunci: kabut tipis, sawah, azan subuh, surau, arit.
    2. Azan subuh menunjukkan waktu: menjelang pagi.
    3. Sawah, surau, dan arit menunjukkan tempat: desa pertanian.
    4. Kabut tipis dan suara azan menimbulkan suasana tenang.
  • Jawaban: pagi menjelang terang di desa pertanian dengan suasana tenang.
  • Alasan: latar disimpulkan dari kumpulan kata kunci, bukan dari satu kata.

INDO-07

Kalimat Efektif, Ejaan, dan Tanda BacaPrioritas rendah

Inti. Bab ini berprioritas rendah: kalimat efektif dan ejaan bukan butir tersendiri pada cakupan resmi, dan soal asli TKA 2025 tidak memuatnya; kaidah ini hanya mendukung pemahaman makna. Ejaan yang berlaku adalah Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan Edisi V. Pelajari bab ini setelah semua bab lain.

Tabel perbandingan bentuk tidak efektif dan efektif Masalah Tidak efektif Efektif Pleonasme naik ke atas naik Jamak ganda para guru-guru para guru Subjek hilang Dalam penelitian itu membuktikan … Penelitian itu membuktikan … Paralelisme berkemah, berenang, dan latihan berkemah, berenang, dan berlatih Kalimat efektif hemat kata: pilih yang tanpa kata berulang makna, bukan yang paling panjang.
Empat kesalahan struktur kalimat yang paling sering diuji, masing-masing dengan bentuk salah dan perbaikannya.
Aturan penulisan di, penggunaan titik dua, dan koma pada anak kalimat Kata di: awalan atau kata depan? Dapat diubah ke bentuk aktif ditulis → menulis awalan di-, ditulis serangkai dibaca, ditulis Menunjukkan tempat tidak dapat menjadi bentuk aktif kata depan di, ditulis terpisah di rumah, di sekolah Titik dua: kapan dipakai? Didahului pernyataan lengkap, lalu rincian pakai titik dua Kita memerlukan bahan berikut: tepung, gula, dan telur. Rincian langsung melengkapi predikat tanpa titik dua Kita memerlukan tepung, gula, dan telur. Koma: anak kalimat di depan atau di belakang? Anak kalimat di depan induk kalimat anak kalimat memuat kata hubung, mis. kalau pakai koma Kalau diundang, saya akan datang. Anak kalimat di belakang induk kalimat induk kalimat disebut lebih dahulu tanpa koma Saya akan datang kalau diundang.
Tiga keputusan ejaan yang sering keliru: di sebagai awalan atau kata depan, kapan titik dua dipakai, dan koma pada anak kalimat.

Kaidah / strategi.

  • Kalimat efektif memiliki subjek dan predikat yang jelas, hemat kata, dan mudah dipahami.
  • Subjek hilang: kata depan (dalam, pada, bagi, kepada) di awal menjadikan calon subjek hanya keterangan. Salah: Bagi peserta wajib hadir. Benar: Peserta wajib hadir.
  • Pleonasme adalah penggunaan kata berlebihan yang bermakna sama: naik ke atas, agar supaya, disebabkan karena.
  • Jamak ganda: salah para guru-guru, benar para guru.
  • Paralelisme: unsur rincian memakai bentuk kata yang sama. Salah: berkemah, berenang, dan latihan. Benar: berkemah, berenang, dan berlatih.
  • Di sebagai awalan ditulis serangkai (dibaca); di sebagai kata depan tempat ditulis terpisah (di rumah). Uji: jika kata dapat diubah ke bentuk aktif (ditulis menjadi menulis), di- adalah awalan.
  • Titik dua dipakai setelah pernyataan lengkap yang diikuti rincian; tidak dipakai bila rincian langsung melengkapi predikat.
  • Koma dipakai bila anak kalimat mendahului induk kalimat (“Kalau diundang, saya akan datang.”) dan tidak dipakai bila anak kalimat mengikuti induk kalimat (“Saya akan datang kalau diundang.”).
  • Bentuk baku yang sering salah: analisis (bukan analisa), risiko (bukan resiko), nasihat (bukan nasehat), izin (bukan ijin).

Jebakan.

  • Kalimat yang lebih panjang dipilih karena tampak lengkap; kalimat efektif bersifat hemat.
  • Kalimat berawalan kata depan dianggap sudah bersubjek; periksa adakah kata benda atau frasa benda yang melakukan tindakan.
  • Di- awalan dan di kata depan tertukar; gunakan uji bentuk aktif.

Contoh singkat.

  • Kalimat: “Dalam penelitian itu membuktikan bahwa sampah plastik meningkat.”
  • Soal: bagaimana perbaikan yang tepat?
  • Langkah penalaran:
    1. Cari pelaku tindakan membuktikan: yang membuktikan adalah penelitian itu.
    2. Kata dalam menjadikan penelitian itu keterangan, bukan subjek.
    3. Hapus dalam agar penelitian itu menjadi subjek.
  • Jawaban: “Penelitian itu membuktikan bahwa sampah plastik meningkat.”
  • Alasan: tanpa dalam, kalimat memiliki subjek dan predikat.

INDO-08

Koherensi: Konjungsi dan Hubungan Antarkalimat/Antarparagraf

Inti. Soal koherensi menguji hubungan makna antara klausa, kalimat, dan paragraf, terutama hubungan antarparagraf (sebab, akibat, penguraian, pertentangan). Konjungsi menunjukkan jenis hubungan itu: tentukan dahulu hubungan maknanya, baru pilih konjungsi. Latihan kalimat rumpang dan kalimat acak adalah latihan penunjang kohesi, bukan bentuk soal resmi TKA.

Peta konjungsi menurut hubungan makna Tentukan dulu hubungan klausa kedua terhadap klausa pertama, baru pilih konjungsi. Sebab karena, sebab, lantaran Akibat sehingga, akibatnya, oleh karena itu, maka Kontras tetapi, namun, sedangkan, melainkan Konsesi meskipun, walaupun, biarpun berlawanan dengan harapan Syarat jika, apabila, kalau, asalkan kondisi yang harus dipenuhi Tujuan agar, supaya, untuk, guna Urutan, waktu mula-mula, kemudian, lalu, setelah itu, sebelum, sesudah, akhirnya Penambahan selain itu, lagi pula, di samping itu Simpulan jadi, dengan demikian Contoh: “Saluran air tersumbat sampah. ______ air hujan menggenangi jalan.” Kalimat 2 adalah akibat, jadi: Akibatnya.
Konjungsi dikelompokkan menurut hubungan maknanya; konsesi (berlawanan dengan harapan) dan syarat (kondisi yang harus dipenuhi) sering tertukar.
Tiga langkah menyusun kalimat acak menjadi paragraf 1 Kalimat pembuka umum, memperkenalkan topiktanpa kata rujukantanpa konjungsi penghubung 2 Kalimat tengah urut lewat kata rujukan:itu, tersebut, hal ini, merekamengacu ke kalimat sebelumnya 3 Kalimat penutup simpulan atau dampakdari uraian sebelumnya × Bukan pembuka kalimat berawalan Namun,Selain itu, atau kata rujukantidak boleh di posisi 1 Posisi kalimat topik Deduktif: kalimat topik di awal, sebagai pembuka.Induktif: kalimat topik di akhir, sebagai penutup.
Menyusun kalimat acak: tentukan pembuka dan penutup lebih dulu, lalu urutkan kalimat tengah lewat kata rujukan; kalimat berawalan Namun, Selain itu, atau kata rujukan tidak boleh menjadi pembuka.

Kaidah / strategi.

  • Kohesi adalah kepaduan bentuk (konjungsi, pengulangan kata, rujukan ini, itu, tersebut, -nya, mereka). Koherensi adalah kepaduan makna atau logika antargagasan.
  • Hubungan antarparagraf: tentukan fungsi tiap paragraf terhadap paragraf sebelumnya (menguraikan, menyebut sebab, menyebut akibat, menyebut pertentangan, atau melengkapi).
  • Kalimat topik memuat gagasan utama paragraf; kalimat penjelas memuat alasan, contoh, atau data.
  • Paragraf deduktif: kalimat topik di awal. Paragraf induktif: kalimat topik di akhir.
  • Kalimat tidak padu adalah kalimat yang topiknya menyimpang dari gagasan utama paragraf, walaupun berkaitan secara umum.
  • Memilih konjungsi: baca kedua klausa, lalu tanyakan apakah klausa kedua berupa sebab, akibat, lawan, syarat, tujuan, atau kelanjutan.
  • Sebab: karena, sebab, lantaran.
  • Akibat atau hasil: sehingga, akibatnya, oleh karena itu, maka.
  • Kontras atau pertentangan: tetapi, namun, sedangkan, melainkan, akan tetapi, sebaliknya.
  • Konsesi (berlawanan dengan harapan): meskipun, walaupun, biarpun, kendati; jangan dipasangkan dengan tetapi dalam satu kalimat.
  • Syarat: jika, apabila, kalau, asalkan.
  • Tujuan: agar, supaya, untuk, guna. Sehingga menyatakan akibat nyata, sedangkan agar menyatakan harapan.
  • Urutan atau waktu: mula-mula, kemudian, lalu, setelah itu, sebelum, sesudah, akhirnya.
  • Penambahan: selain itu, lagi pula, di samping itu, bahkan. Contoh: misalnya, contohnya, antara lain.
  • Simpulan: jadi, dengan demikian.
  • Melainkan mengikuti klausa negatif dan menegaskan hal sebaliknya: Ia bukan malas, melainkan sakit.
  • Konjungsi korelatif berpasangan dan pasangannya tetap: baik... maupun, tidak hanya... tetapi juga, bukan... melainkan, entah... entah.
  • Kalimat acak (penunjang), langkah 1: tentukan kalimat pembuka (umum, memperkenalkan topik, tanpa kata rujukan atau konjungsi penghubung).
  • Langkah 2: tentukan kalimat penutup (simpulan atau dampak).
  • Langkah 3: susun kalimat tengah lewat kata rujukan (itu, tersebut, hal ini, mereka) yang mengacu ke kalimat sebelumnya.
  • Kalimat rumpang (penunjang): baca kalimat sebelum dan sesudah rumpang, tentukan relasi (kontras, akibat, tambahan, contoh), lalu pilih konjungsi.

Jebakan.

  • Konjungsi dipilih tanpa menentukan hubungan makna; periksa klausa kedua dan singkirkan konjungsi yang hubungannya berbeda.
  • Namun atau oleh karena itu dipilih hanya karena terdengar akademis, padahal relasi isi kalimat tidak sesuai.
  • Konsesi disamakan dengan syarat: meskipun menyatakan hal yang berlawanan dengan harapan; jika menyatakan kondisi yang harus dipenuhi.
  • Sehingga (akibat) tertukar dengan agar (tujuan).
  • Tetapi tertukar dengan melainkan, atau pasangan korelatif dirusak.
  • Kalimat berawalan Namun, Selain itu, atau kata rujukan dipilih sebagai pembuka; kalimat itu bergantung pada kalimat sebelumnya sehingga tidak dapat berada di awal.
  • Kalimat yang topiknya mirip dianggap pasti padu; padu berarti mendukung gagasan utama.

Contoh singkat.

  • Teks: “Saluran air di kompleks itu tersumbat sampah. ______ air hujan menggenangi jalan.”
  • Soal: kata hubung antarkalimat yang tepat adalah (a) Namun, (b) Akibatnya, (c) Padahal, (d) Misalnya.
  • Langkah penalaran:
    1. Kalimat pertama menyebut keadaan: saluran air tersumbat sampah.
    2. Kalimat kedua menyebut hasil: air hujan menggenangi jalan.
    3. Genangan di jalan terjadi karena saluran tersumbat, jadi hubungannya sebab-akibat.
    4. Singkirkan Namun (pertentangan), Padahal (pertentangan dengan keadaan sebelumnya), dan Misalnya (contoh).
  • Jawaban: (b) Akibatnya.
  • Alasan: kalimat kedua adalah akibat dari kalimat pertama.

Contoh lanjutan.

  • Teks: “Pemerintah telah menambah jumlah bus listrik di pusat kota. ______, jumlah penumpang belum meningkat karena rute belum menjangkau permukiman.”
  • Soal: konjungsi yang tepat: A. Oleh karena itu B. Namun C. Misalnya D. Selain itu
  • Langkah penalaran:
    1. Kalimat pertama berisi upaya yang diharapkan berhasil.
    2. Kalimat kedua berisi hasil yang berlawanan dengan harapan (penumpang belum bertambah).
    3. Hubungan kedua kalimat adalah pertentangan.
    4. Oleh karena itu menyatakan akibat, misalnya menyatakan contoh, dan selain itu menyatakan tambahan; ketiganya tidak sesuai.
  • Jawaban: B. Namun.
  • Alasan: hubungan kedua kalimat adalah pertentangan.

INDO-09

Teks Multisumber dan Strategi Bentuk Soal

Inti. Pada teks jamak, pembaca membandingkan dua teks atau lebih tentang topik yang sama (misalnya berita dan opini). Soal menanyakan persamaan, perbedaan, saling menguatkan atau melemahkan, sudut pandang penulis, kelengkapan informasi, atau simpulan yang didukung kedua teks. Bab ini juga memuat strategi bentuk soal resmi: pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, dan kategori, baik tunggal maupun bergrup.

Diagram Venn dua teks tentang kerja dari rumah dan pernyataan yang tidak bersumber Teks 1 (2) keuntungan:hemat waktu perjalananhingga dua jam per hari Keduanya (1) topik sama:kerja darirumah Teks 2 (2) kerugian:komunikasi langsung berkurang,koordinasi tim melambat (3) Kedua teks menyimpulkan kerja dari rumah harus dihentikan Tidak ada di Teks 1 maupun Teks 2, jadi salah. Pernyataan (1) dan (2) didukung teks.
Setiap pernyataan ditandai sumbernya: (1) ada di kedua teks, (2) ada di Teks 1 dan Teks 2 secara terpisah, (3) tidak ada di teks mana pun sehingga salah.
Cara menilai pilihan ganda kompleks, benar/salah kategori, dan kata pengecoh Pilihan ganda kompleks: tiap pernyataan dinilai sendiri (1) Kedua teks membahaskerja dari rumah Benar (2) Teks 1 menyebut keuntungan,teks 2 menyebut kerugian Benar (3) Kedua teks menyimpulkan kerjadari rumah harus dihentikan Salah Benar/salah kategori: satu pernyataan, satu unsur salah Teks 1 menyebut kerja dari rumahmenghemat waktu perjalanan hinggatiga jam per hari Salah teks menyebut dua jam, bukan tiga jam Satu unsur salah: seluruh pernyataan salah Kata pengecoh Umumnya membuat salah selalu, tidak pernah, hanya,pasti, sepenuhnya, semua Biasanya sesuai teks sebagian, dapat, cenderung,umumnya Kata mutlak tetap benar bila teks memakai kata yang sama.
Pilihan ganda kompleks dinilai per pernyataan; pada benar/salah kategori satu unsur yang salah membuat seluruh pernyataan salah; kata mutlak biasanya menandai pernyataan salah.

Kaidah / strategi.

  • Teknik: baca tiap teks terpisah, catat pernyataan pokok dan sikapnya, lalu bandingkan.
  • Peta dua teks: untuk tiap teks tulis satu baris berisi topik, klaim, bukti (data, pengalaman, pendapat ahli), dan sikap penulis (mendukung, menolak, netral).
  • Persamaan: topik, informasi, atau sikap yang muncul pada kedua teks.
  • Perbedaan: fokus, sumber, tujuan, sikap, data, atau simpulan yang tidak sama.
  • Teks B menguatkan teks A bila bukti B mendukung klaim A; melemahkan bila bukti B bertentangan atau memberi penjelasan lain.
  • Sintesis adalah simpulan yang didukung kedua teks; simpulan yang hanya didukung satu teks bukan sintesis.
  • Perhatikan yang ditanyakan: Teks 1, Teks 2, atau kedua teks. Jangan menggabungkan informasi bila soal menanyakan satu teks.
  • Tandai sumber tiap pernyataan: teks 1, teks 2, keduanya, atau tidak ada.
  • Pilihan ganda (PG): satu jawaban paling tepat. Coret pilihan yang jelas salah, lalu bandingkan sisanya dengan teks.
  • Pilihan ganda kompleks (PGK): pilih semua pernyataan yang benar. Jumlah jawaban benar tidak ditentukan (satu, beberapa, atau semua). Nilai tiap pernyataan secara terpisah; jangan memilih berdasarkan jumlah.
  • Soal kategori: daftar pernyataan yang tiap barisnya dikategorikan (Benar/Salah, Sesuai/Tidak sesuai, Fakta/Opini). Putuskan tiap baris secara mandiri; satu baris salah tidak mengubah penilaian baris lain.
  • Dalam satu pernyataan, satu unsur yang tidak sesuai dengan teks membuat seluruh pernyataan salah.
  • Pernyataan yang tidak dapat dibuktikan dari teks diperlakukan sebagai tidak sesuai teks.
  • Soal bergrup: beberapa soal memakai satu stimulus (teks, tabel, grafik). Baca stimulus sekali dengan teliti, lalu jawab semua soalnya.
  • Bentuk soal di atas mengikuti Perka BSKAP 045/H/AN/2025. Jumlah soal dan teknis pelaksanaan pada hari tes mengikuti panitia.
  • Pola soal pada soal asli TKA 2025 (berkas guru, 28 soal dari 8 teks): 5 teks nonfiksi (argumentasi tradisi buwuhan, opini pemulihan ekosistem, berita prospek ekonomi global, argumentasi tari Hudoq, argumentasi tradisi belis) dan 3 teks fiksi (cerpen Layur, satir pantai bersih, cerpen Roh Meratus).
  • Pola yang berulang: makna kata atau istilah dalam konteks (termasuk glosarium dan istilah lokal); gagasan penjelas yang mendukung gagasan pokok; hubungan makna antarparagraf (penyebab, akibat, penguraian, saling melengkapi); kalimat yang cocok sebagai kesimpulan teks argumentasi atau penutup teks; watak tokoh dari tindakan dan ucapan; penyebab perasaan atau konflik tokoh; kelanjutan atau akhir cerita; urutan peristiwa; relevansi sindiran dengan kehidupan nyata; alasan penulis memilih idiom atau kata tertentu.
  • Dua pola berbentuk kategori Benar/Salah: data yang mendukung opini penulis, dan kesesuaian tindakan tokoh dengan wataknya.
  • Cara berlatih: latih satu teks, lalu jawab semua jenis pertanyaan di atas untuk teks itu.

Jebakan.

  • Teks 1 dan Teks 2 tertukar; pernyataan yang benar untuk satu teks dianggap berlaku untuk kedua teks. Periksa teks lain dan beri tanda sumber.
  • Topik disamakan dengan sikap. Dua teks tentang hal yang sama dapat mendukung dan menolak, atau hanya berbeda tingkat (ragu dan menolak); baca pilihan kata evaluatifnya.
  • Pada PGK, hanya satu pilihan yang dipilih, atau semua dianggap benar tanpa diperiksa; periksa semua pernyataan sampai selesai.
  • Pengetahuan di luar teks dipakai untuk menilai pernyataan yang diminta sesuai teks.
  • Terlalu lama pada satu teks panjang sehingga soal akhir tidak sempat dikerjakan.

Contoh singkat.

  • Teks 1: “Kerja dari rumah menghemat waktu perjalanan pegawai hingga dua jam per hari.”
  • Teks 2: “Kerja dari rumah mengurangi komunikasi langsung sehingga koordinasi tim melambat.”
  • Soal (pilih semua yang benar): (1) Kedua teks membahas kerja dari rumah.
  • (2) Teks 1 menyebut keuntungan dan teks 2 menyebut kerugian.
  • (3) Kedua teks menyimpulkan bahwa kerja dari rumah harus dihentikan.
  • Langkah penalaran:
    1. Pernyataan (1): kedua teks membahas kerja dari rumah, sehingga benar.
    2. Pernyataan (2): teks 1 menyebut hemat waktu (keuntungan) dan teks 2 menyebut koordinasi melambat (kerugian), sehingga benar.
    3. Pernyataan (3): tidak ada teks yang menyimpulkan penghentian, dan teks 1 menyebut manfaat, sehingga salah.
  • Jawaban: (1) dan (2).
  • Alasan: pernyataan (3) tidak bersumber dari teks mana pun.

Contoh lanjutan.

  • Pernyataan (benar/salah kategori): “Teks 1 menyebut kerja dari rumah menghemat waktu perjalanan hingga tiga jam per hari.”
  • Langkah penalaran:
    1. Cari angka waktu perjalanan di teks 1: dua jam per hari.
    2. Pernyataan menyebut tiga jam; satu unsur tidak sesuai.
  • Jawaban: salah.
  • Alasan: teks 1 menyebut dua jam; satu unsur salah membuat seluruh pernyataan salah.
  • Teks 1 (berita): “Kecelakaan di Jalan Merpati turun 20% berkat lampu penerangan yang dipasang bulan lalu.”
  • Teks 2 (opini): “Penurunan itu tak bisa serta-merta dikaitkan dengan lampu, sebab pada periode sama jalan itu ditutup bagi kendaraan berat.”
  • Tentukan Sesuai/Tidak sesuai: (a) Teks 1 mengaitkan penurunan dengan lampu. (b) Teks 2 menyatakan lampu sama sekali tidak berpengaruh. (c) Kedua teks menyebut kecelakaan menurun.
  • Langkah penalaran:
    1. (a) Teks 1 menyatakan penurunan terjadi berkat lampu, jadi mengaitkannya secara eksplisit: sesuai.
    2. (b) Teks 2 hanya menyatakan penurunan tidak dapat langsung dikaitkan dengan lampu dan menawarkan sebab lain; teks 2 tidak menyatakan lampu sama sekali tidak berpengaruh: tidak sesuai.
    3. (c) Teks 2 menyebut penurunan itu, yang merujuk pada penurunan kecelakaan: sesuai.
  • Jawaban: (a) Sesuai, (b) Tidak sesuai, (c) Sesuai.
  • Alasan: tiap baris dinilai terpisah terhadap kalimat teks yang dirujuk.

STRATEGI

Strategi 75 menit untuk 30 soal

  • Rata-rata waktu per soal 2,5 menit (75 menit untuk 30 soal), termasuk membaca teks.
  • Tahap pertama: sekitar 2 menit per soal (60 menit untuk 30 soal).
  • Soal yang melebihi 3 menit: tandai, pilih jawaban sementara, lalu lanjutkan.
  • Sisakan sekitar 15 menit di akhir untuk mengerjakan ulang soal yang ditandai, memeriksa jawaban, dan memastikan semua soal terjawab.
  • Urutan: baca pertanyaan dahulu, baca teks sekali sambil menandai gagasan utama dan kata penting, lalu jawab.
  • Pada soal bergrup, baca teks sekali dengan teliti, lalu jawab semua soal yang memakai teks itu.
  • Baca ulang hanya bagian yang dirujuk soal.
  • Kerjakan dahulu soal yang jawabannya langsung ditemukan: informasi tersurat, makna kata dalam konteks, hubungan antarparagraf (konjungsi), dan fakta atau opini.
  • Dengan begitu waktu untuk soal inferensial, penilaian argumen, dan teks multisumber lebih panjang.
  • Pilihan ganda kompleks: periksa tiap pernyataan terpisah dan tandai nomor kalimat bukti.
  • Jangan membatasi jumlah pilihan yang dianggap benar.
  • Benar/salah kategori: satu unsur salah membuat seluruh pernyataan salah, termasuk angka, pelaku, dan urutan.
  • Kata pengecoh (umumnya membuat pernyataan salah): selalu, tidak pernah, hanya, pasti, sepenuhnya, semua.
  • Pengecualian: pernyataan benar bila teks memakai kata yang sama.
  • Kata yang biasanya sesuai dengan teks: sebagian, dapat, cenderung, umumnya.
  • Pilihan yang menyalin kalimat teks belum tentu benar; pastikan pilihan itu menjawab pertanyaan.
  • Materi kalimat efektif dan ejaan (indo-07) berprioritas rendah; pelajari setelah bab lain.